pensiun dini

November 15, 2007

Kini, banyak sekali pejabat dan mantan pejabat yang harus berurusan dengan polisi. Hal ini, telah memunculkan penyakit baru, sebuah syndrome. Syndrome kekuasaan. Post power sindrome ini bahkan telah menjadi penyakit mematikan yang menghantui setiap pejabat saat ini. Bukan karena apa-apa, kebanyakan aparat kepolisian saat ini memang hanya berani menciduk mantan pejabat saja, seperti mantan bupati, mantan anggota atau ketua dewan, atau mantan gubernur. Akibatnya, stroke dan depresi menjadi penyakit yang kerap menghinggapi mantan pejabat yang pada akhirnya harus berurusan dengan pengadilan. Tak heran, banyak mantan pejabat yang harus mangkir dari panggilan kejaksaan atau kepolisian dengan alasan sedang sakit. Atau bahkan, mangkir dari sidang karena sedang sakit mendadak. Beberapa penguasa korup dengan sengaja mencoba mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya pada saat masih menjabat. Tujuannya, agar bisa membayar pengacara kondang saat lengser dari jabatannya. Saat itulah mereka bertaruh. Bila lolos, mereka selamat sambil menikmati sisa harta hasil korupsi. Bila tidak, tentu saja mereka harus tidur di lantai penjara yang dingin dan pengap. Kita tentu masih ingat dengan mantan Gubernur Kalsel, Sjachriel Darham. Pada saat masih menjabat, dia banyak dielu-elukan anak buahnya, pengusaha yang ingin mendapat proyek, bahkan polisi dan aparat penegak hukum lainnya. Tapi, baru beberapa saat lengser dari jabatannya, dua kasus korupsi langsung dibelitkan kepadanya. Dan, dia pun harus hidup di balik terali besi. Juga mantan Ketua Dewan Sleman, Jarot Subiyantoro. Saat masih menjabat, banyak polisi, tentara, preman hingga pengusaha berebut mendekatinya. Tentu saja dengan maksud-maksud tertentu. Semua ingin mendapat jatah hidup dan penghidupan darinya. Tapi begitu lengser dari kursi orang nomor satu di Dewan Sleman, dia harus mendekam di balik bui selama beberapa bulan karena kesandung kepemilikan ineks.

Banyaknya kasus yang menjerat pejabat, tentu membuat pertanyaan banyak orang. Bukankan jabatan itu amanah? Lalu kenapa setelah diberi amanah justru disalahgunakan? Kenapa pula penegak hukum baru memproses setelah pejabat itu lengser? Kenapa beberapa pejabat lolos dari jerat hukum dan pejabat lainnya harus mendekam di bui? Masalah uang ataukah masalah loby?

 Kalau tahu jabatan itu amanah, mestinya pejabat berhati-hati dan bekerja keras melayani pemberi amanah, rakyat. Kalau merasa tidak mampu mengemban amanah, kata ustadz Ahmad, lebih baik menolak saat akan diberi amanah itu. Dengan demikian, akan selamat dunia akhirat. Karena, menjadi seorang pemimpin, tanggungjawab, tantangan dan godaannya sangat berat. Tapi yang terjadi sebaliknya, banyak orang berebut kursi bupati, gubernur atau presiden. Meskipun sebetulnya mereka tidak mampu mengemban jabatan itu. Bahkan, untuk menduduki jabatan jabatan itu, seseorang harus keluar uang hingga miliaran rupiah. Atau mengorbankan keluarga, aqidah serta harga diri. Akibatnya, karena tidak mampu menjalankan tugas dengan baik, banyak masalah timbul. Yang dipimpin protes karena tidak puas. Masalah terbengkelai. Sang pejabat jadi korup karena harus mengembalikan uang yang telah dikeluarkan saat kampanye. Bahkan, meski dinyatakan tidak becus, hingga dibelit masalah, masih banyak pejabat yang mencoba mempertahankan jabatannya. Segala macam cara digunakan agar jabatan itu tidak lepas darinya. Mulai dari tebar pesona hingga meminta bantuan paranormal. Soal jabatan, saya jadi teringat kepada ibu saya di pelosok desa sana. Memulai kerja sebagai seorang guru di sebuah SD terpencil dengan gaji hanya beberapa ribu rupiah saat itu, beliau terus mengabdikan dirinya. Gali lobang tutup lobang adalah hal yang teramat biasa. Hingga pada akhirnya, setelah berpuluh-puluh tahun mengabdi, beliau diangkat menjadi kepala sekolah. Saat itu, sebagai seorang pendidik, beliau masih tetap mengajar. Mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Memberi bekal ilmu kepada masyarakat. Jenjang kepangkatan berubah. Beliau pun harus diangkat menjadi penilik sekolah. Konsekuensinya, beliau harus pindah ke Kantor Cabang Dinas Pendidikan di tingkat kecamatan. Untuk itu, tidak ada lagi aktivitas mengajar. Beberapa bulan berlalu. Sudah terbiasa dengan mengajar, beliau menjadi tidak betah hanya duduk-duduk di kantor. Tiap hari hanya melihat rekannya main catur di kantor. Tiap hari melihat rekannya datang kantor agak siang, main catur, ngobrol dan pulang menjelang siang. 

Pergolakan batin terjadi. Dan Pensiun dini menjadi keputusan akhir yang harus beliau ambil. Saat kami tanya kenapa mengajukan pensiun dini, padahal kerja tidak terlalu berat, dan masih mendapat segala macam tunjangan. Beliau menjawab, ada rasa tidak enak hati kepada masyarakat karena tidak ada lagi yang harus dikerjakan di kantor. Akhirnya, beliau pun mengurus SK pensiun dini dua tahun sebelum pensiun.

 Jabatan, memang enak. Bisa membius, melenakan. Bisa juga mengangkat status sosial dan penghasilan. Tapi, dia bisa berubah menjadi pedang bermata dua yang siap mengubah pesona menjadi penyakit mematikan. Post power syndrome. Tapi bila tahu, jabatan itu adalah amanah, ujian. Jika kebetulan diangkat menjadi pejabat, maka bersedihlah, mawas dirilah. Kalau tidak sanggup, lebih baik menolaknya…  salam… Banjarbaru Kalsel

15 Nov 2007

marah

November 11, 2007

Ini adalah zaman frustasi. Banyak orang marah karena kecewa, karena diperlakukan tidak adil, karena tidak bisa mencapai keinginannya, atau bahkan marah tanpa sebab. Banyak pula orang yang dimarahi tanpa sebab, atau hanya karena masalah sepele. Lalu, kenapa orang menjadi mudah marah?

Aa Gym pernah bilang, orang pemarah itu tanda tidak punya ilmu. Karena tak punya ilmu, maka tak bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik. Akibatnya, orang menjadi mudah patah arang, orang menjadi mudah kecewa dan pelampiasannya adalah marah. Kata Gym, dengan ilmu, orang bisa menyelesaikan masalah apa saja. Dengan ilmu, orang bisa melepaskan uneg-uneg atau stressnya secara lebih baik. Sehingga, tak perlu dongkol, tak perlu marah.

Dengan marah, orang menganggap masalah bisa selesai. Setidaknya, bisa melampiaskan kekecewaan, bisa melampiaskan ketidakpuasan, dan mengurangi beban stress. Tapi tunggu dulu, itu kan perbuatan orang picik! Tidak bisa mengendalikan diri dengan baik, tapi menyalahkan orang lain.

Sekarang, banyak orang bilang ini zaman edan. Banyak orang mengutip kata-kata pujangga Ki Ronggo Warsito. Kata orang, kalau tidak ikut edan, tidak kebagian. Tapi lucunya, banyak orang tidak memahami pesan Ki Warsito ini secara lengkap. Bahkan mengorupsi sebagian pemikiran Ki Warsito itu. Mestinya, pesan Warsito itu tidak hanya berhenti pada “yang tidak ikut edan tidak kebagian,” tapi, “Wong kang selamet iku, wong sing eling lan waspodo.”

Ya itulah. Sekarang banyak orang dengan mudah saling tuduh, padahal sama-sama saling melakukan keburukan. Itu namanya maling teriak maling. Di kantor saya, termasuk saya, sering sekali dengan mudah menuduh orang lain melakukan kesalahan. Kami sering ngerumpi bahwa Si A, Si B, Si C, pejabat A, pejabat B, pimpinan ini, koordinator itu, sering bertindak tidak adil. Padahal, kami sendiri, terkadang lebih buruk dari orang yang kita tuduh itu.

Di kantor, kami sering melakukan korupsi. Korupsi jam kerja, korupsi uang hadir, korupsi tanda tangan, dan korupsi lain-lainnya. Lalu apa bedanya dengan para pejabat yang sering melakukan korupsi, seperti yang sering kami rumpikan? Kami sering berdalih bahwa korupsi yang kita lakukan tidak merugikan rakyat! Nah loh… Sama-sama klepto, tapi selalu berdalih.

Saat mencermati masalah ini, kebanyakan orang bilang, sudah saatnya mendapat bimbingan agama. Tapi kita sering lupa satu pertanyaan, sudahkah kita mengamalkan ajaran agama kita secara benar? Jangan-jangan kita hanya menjalankan ritualnya saja, tanpa pernah memahami ajaran agama yang benar. “Paham!” kata ustadnya Si Entong.

Banyak orang sering lupa, saat terlahir, kita langsung punya satu agama yaitu agama orangtua kita. Dalam hal ini, posisi kita dalam kondisi terpaksa. Kita tidak pernah memilih suatu agama atau keyakinan kita secara sadar dan sungguh-sungguh. Celakanya, hal ini kita jalani saja hingga dewasa, tua dan bahkan sampai mati. Kita tak pernah menyadari spiritualitas kita secara sungguh-sungguh dan penuh kesadaran. Kita tidak pernah mempertanyakan kenapa kita harus menganut agama ini atau agama itu.

Celakanya lagi, pada saat kita punya kesadaran untuk memilih keyakinan kita, kita tidak pernah menggunakan kesempatan itu. Kita selalu terjebak pada budaya, pada kebiasaan keluarga dan sekeliling kita, sehingga tidak pernah mau bersikap kritis. Pernahkah kita punya keberanian untuk mempertanyakan kebenaran agama kita? Hmmm… Kalau ini kita lakukan, pasti kita akan langsung dicap murtad.

Jadi, beruntunglah bila anda terlahir di lingkungan yang terbiasa dengan perbedaan pendapat. Di lingkungan kampus, mempertanyakan kebenaran ajaran agama adalah hal yang sangat wajar. Itu biasa. Perbedaan pendapat dan mempertanyakan kebenaran agama bukan untuk menjadi murtad. Perbedaan pendapat justru untuk memperkaya pemahaman kita, tentang agama, spiritualitas, dan tentang alam semesta.

Dengan berdebat, bukan untuk menjadikan sikap permusuhan, tapi justru untuk memperkuat keyakinan kita. Untuk membentuk sikap toleransi kita, bahwa di luar diri kita ada orang lain. Di luar diri kita ada hal lain yang perlu kita hormati. Di luar diri kita, ada ego-ego lain seperti ego kita, yang tentunya ingin dihormati juga.

Lalu, bagaimana agar ajaran agama bisa berperan mengatasi masalah manusia sepanjang zaman, seperti tujuan agama itu sendiri? Semestinya, agama dan kitabnya harus bisa menjadi penuntun umat manusia sepanjang zaman. Lalu kenapa agama terkesan selalu ketinggalan zaman? Nah, di sinilah peran lembaga pendidikan, termasuk pendidikan agama. Sekolahnya, madrasahnya, pondok pesantrennya, termasuk guru-guru dan tenaga pengajarnya harus bisa menempatkan ajaran agama sesuai dengan perkembangan zaman.

Lalu, bagaimana mungkin agama kita diminati (termasuk oleh pengikutnya sekalipun) kalau pengajarnya hanya bisa mengajarkan surga dan neraka saja? Bagaimana mungkin agama bisa mengatasi masalah narkoba, korupsi, dan pergaulan bebas kalau rahibnya terdiri dari orang-orang yang berpandangan kuno, kolot dan tidak bisa menerima perbedaan pendapat. Apalagi beraliran keras menjurus brutal! Wah…

Bersyukur. kini banyak ustadz muda di negara ini yang sudah mulai menyadari hal ini. Banyak ustadz muncul di kalangan selebritis, banyak ustadz muncul di kalangan pesantren, banyak ustadz muncul di kampus-kampus, banyak ustadz muncul di kompleks pelacuran dan tempat-tempat lain yang masih dihuni manusia. Dengan banyaknya ustadz di setiap strata sosial, maka ajaran agama bisa disampaikan secara lebih pas, lebih fleksibel. Tidak kaku dan tidak kasar, karena bisa memahami psikologi sosial di setiap latar belakang kehidupan masyarakat.

Bapakku pernah bilang, hidup ini cuma sebentar. Tidak bijak kalau hanya mengejar kehidupan duniawi saja. Tidak adil kalau hanya memberi makan badan fisik saja. Sewaktu-waktu, kita harus menabung untuk kehidupan spiritual. Kita harus memberi makan badan rohani. Terlebih lagi, dengan singkatnya hidup di dunia ini, bukankah seharusnya kita berbuat baik secara lebih banyak. Bukankah ini kesempatan untuk menabung sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di kemudian hari…

salam hangat…

Banjarbaru, Kalsel
Rabu, 24/10/2007


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.